Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang….
Alhamdulillah, segala kesyukuran di panjatkan kepada Allah swt. Semester ini sudah sampai ke penghujungnya. Begitu banyak pengalaman manis dan pahit yang telah diharungi.
Bermula dengan menjadi agen kepada Minggu Haluan Siswa, kemudian mengalami demam malaria yang akhirnya ana terpaksa ditahan di Hospital Sultanah Aminah selama seminggu. Pengalaman yang sukar untuk dilupakan dan terpahat dalam memori. Seperti hotel, hospital juga mempunyai layanan 'First Class' iaitu ana turut dimasukkan dalam unit rawatan rapi (ICU). Ukhuwah yang terjalin antara aku dengan jururawat dan pesakit lain amat bermakna untuk aku supaya bersyukur dengan nikmat kesihatan yang dianugerahkan oleh Allah swt.
Tidak dilupakan kak Yanti yang telah menziarahiku dan menemankan aku selama semalam dalam keadaan dia mengandung 7 bulan. Perjalanan selama 6jam lebih dari Ipoh ke Johor bahru dia terpaksa tempuhi semata-mata untuk melihat keadaanku ketika itu. Begitu juga sahabat-sahabatku yang tidak putus-putus datang menziarahiku memberikan sokongan moral dan doa. Aku amat menghargainya….
Adikku Ghazali, Azam dan Zulhelmi antara yang telah banyak mengorbankan masa dan tenaga mereka bersama aku dihospital. Tidak mampu aku bayar mengorbankan antum melainkan aku berdoa semoga Allah membalas kebaikan yang pernah kamu berikan kepadaku. Linangan air suci dari tangan Ghazali yang membasihi pipiku untuk berwuduk cukup manis untuk dikenang. Begitu juga dengan Zul dan Azam. Tidak mampu ana coretkan kebaikan2 yang mereka lakukan kepadaku kerana terlalu banyak….
Tidak terhenti setakat itu apabila semester ini aku terpaksa mengambil beberapa subjek yang 'berat'. Digagahkan juga diri untuk merempuh halangan tersebut. Alhamdulillah sedikit semi sedikit halangan tersebut berjaya dilalui.
Amanah yang terus bertambah selepas menjadi senior juga tidak kurang hebatnya. Awal-awal semester aku tidak dapat mengawal masa ku kerana kesibukan jadual akademik. Maklumlah bercuti seminggu di hospital….
Ramadan menjelma dengan membawa seribu pengalaman manis.
Begitu juga ukhuwwah yang aku lukiskan bersama adik-adikku forecast menambah lagi resepi semester ini. Terasa sedikit kesunyian bila diorang semua balik kg lebih awal daripada aku. Munzir, Iskandar, Wan Hazaman, Luqman, Syafiq, Hanif, Aidil,Madhi dll terima kasih kerana menghulurkan tangan untuk berukhuwwah dengan abg.
Akhirnya… tiada yang lain melainkan mengucapkan setinggi kesyukuran atas tarbiah yang dilalui sepanjang semester ini.
# Dalam ruang masa kosong singgah berehat di KL Sental. aku membelek-belek 'folder' tazkirah dalam laptop ini… akhirnya aku terjumpa dengan tajuk ini.. Ya Allah… takut dan gerun dengan dua hadis ini.. Rasanya perlu untuk aku kongsikan bersama rakan perjuangan dalam bahtera apa sekalipun… Semoga kita dapat ambil iktibar dan pengajaran…
Hadis I
Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab Bad'i al-Khalq dalam sahihnya, beliau berkata;
Ali menuturkan kepada kami, Sufyan menuturkan kepada kami dari al-A'masy dari Abu Wa'il dia berkata;ada orang yang berkata kepada Usamah, "Seandainya saja engkau mau mendatangi si fulan dan berbicara menasihatinya." Maka dia menjawab, "Apakah menurut kalian aku tidak berbicara dengannya melainkan aku harus menceritakannya kepada kalian. Aku sudah menasihatinya secara rahasia. Aku tidak ingin membuka pintu yang menjadikan aku sebagai orang pertama yang membuka pintu fitnah itu -menasihati penguasa dengan terang-terangan-. Aku pun tidak akan mengatakan kepada seseorang sebagai orang yang terbaik -walaupun dia adalah pemimpinku- setelah aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."
Mereka bertanya, "Apa yang kamu dengar dari beliau itu?". Dia menjawab; Aku mendengar beliau bersabda, "Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka dan terburailah isi perutnya di neraka sebagaimana seekor keledai yang berputar mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para penduduk neraka di sekitarnya. Mereka bertanya, "Wahai fulan, apa yang terjadi padamu, bukankah dahulu kamu memerintahkan yang ma'ruf kepada kami dan melarang kami dari kemungkaran?".
Lelaki itu menjawab, "Dahulu aku memerintahkan kalian mengerjakan yang ma'ruf sedangkan aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari kemungkaran namun aku justru melakukannya." Hadits ini diriwayatkan oleh Ghundar dari Syu'bah dari al-A'masy (HR. Bukhari [3027] , disebutkan pula oleh Bukhari dalam Kitab al-Fitan [6569] as-Syamilah).
Hadis II
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Kitab az-Zuhd wa Raqa'iq di dalam sahihnya;
Yahya bin Yahya, Abu Bakr bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Ishaq bin Ibrahim dan Abu Kuraib -lafazh ini milik Abu Kuraib- menuturkan kepada kami, Yahya dan Ishaq berkata; memberitakan kepada kami, sedangkan periwayat lainnya mengatakan; menuturkan kepada kami Abu Mu'awiyah; al-A'masy menuturkan kepada kami dari Syaqiq dari Usamah bin Zaid, Syaqiq berkata; ditanyakan kepada Usamah, "Apakah engkau tidak menemui Utsman untuk berbicara dengannya?".
Maka dia menjawab, "Apakah menurut kalian saya harus menceritakan kepada kalian kalau saya sudah berbicara dengannya. Demi Allah, saya sudah menasihatinya berdua saja, aku tidak ingin membuka pintu fitnah sehingga akan membuatku orang yang pertama kali membukanya. Aku juga tidak akan mengatakan kepada seseorang yang menjadi pemimpinku sebagai orang yang terbaik setelah aku mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Akan didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat nanti kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka lalu isi perutnya terburai, lalu dia berputar-putar karenanya sebagaimana berputarnya keledai mengelilingi penggilingan. Maka berkumpullah para penduduk neraka melihatnya.
Mereka berkata, "Wahai fulan, apa yang menimpamu, bukankah engkau dahulu memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar?". Maka dia menjawab, "Benar, dahulu aku memang memerintahkan yang maruf tapi aku tidak melakukannya, dan aku melarang yang mungkar namun aku justru melakukannya." Utsman bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami; Jarir menuturkan kepada kami dari al-A'masy dari Abu Wa'il, dia berkata; Dulu ketika kami duduk-duduk bersama Usamah bin Zaid maka ada seseorang yang mengatakan, "Apa yang menghalangimu menemui Utsman dan berbicara dengannya atas apa yang telah dilakukannya.." kemudian dia membawakan isi hadits ini dengan isi yang sama (HR. Muslim [5305] as-Syamilah)
Saya ingin bertanya tentang sebuah ayat dlm Al-Qur'an yg menyebutkan kisah tentang dua orang malaikat di Negri Babil yg bernama Harut dan Marut. Sebenarnya siapakah dua malaikat yg bernama Harut dan Marut tersebut ?
Atas perhatian Ust. saya ucapkan terimakasih. Wassalam
Jawapan:
Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Zae yang dimuliakan Allah swt
Allah swt berfirman
Artinya : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”
(QS. Al Baqoroh : 102)
Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah swt mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah hujjah (dalil) dalam hal ini, hal itu berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani.
Dan perkataan mereka yang paling dekat tentang kedua malaikat tersebut adalah bahwa masyarakat saat itu mendapatkan fitnah dengan para tukang sihir sehingga mereka mengangkat para tukang sihir itu sampai ke derajat para nabi. Kemudian Allah swt menurunkan dua malaikat untuk mengajarkan kepada manusia sihir agar mereka bisa membedakan antara sihir dengan kenabian serta memperingatkan mereka tentang fitnah terhadapnya. Atau—ada juga yang mengatakan—bahwa mereka berdua adalah dua orang yang memiliki ilmu dan akhlak mulia sehingga menjadi fitnah di masyarakat dan mereka memberikan kepada kedua orang itu nama dua malaikat. Hal ini dari aspek penyerupaan dan gaya bahasa yang sudah difahami sejak dahulu sebagaimana saat ini nama Malaak digunakan untuk seorang yang istimewa.
Didalam cerita-cerita kuno masayarakat Babilonia terdapat dua orang yang memiliki nama mirip yaitu Harut dan Marut. Masyarakat saat itu begitu kagum dengan mereka berdua sehingga memberikan kepada keduanya nama dua malaikat. Bahkan kekaguman mereka terhadap keduanya pun bertambah sehingga meyakini bahwa mereka berdua adalah Tuhan.
Kemudian orang-orang Yahudi mempelajari peninggalan dari kedua orang itu berupa hikmah dan sihir yang menjadikan mereka lebih disibukkan olehnya daripada Kitab Allah dan mereka pun membuang Kitab Allah itu dibelakang punggung mereka.
Tidak diperbolehkan bagi kita untuk merujuk kepada cerita-cerita yang dikatakan mereka itu tentang malaikat yang bertentangan dengan kemaksuman mereka. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah swt :
Artinya : “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. Al Anbiya : 26 – 27)
Artinya : “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al Anbiya : 19 – 20) – (Fatawa Al Azhar juz VII hal 436)
Firman Allah swt :
Artinya : ”dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”
Sayyid Qutb mengatakan bahwa terdapat kisah tentang keduanya yang sudah diketahui dimana orang-orang Yahudi atau para setan telah menganggap bahwa mereka berdua (Harut dan Marut) mengetahui tentang sihir dan mengajarkannya kepada manusia dan kedua malaikat itu menganggap bahwa sihir itu diturunkan kepada mereka berdua!
Kemudian Al Qur’an membantah kebohongan ini, kebohongan yang menyatakan bahwa sihir diturunkan kepada kedua malaikat itu.. Selanjutnya Allah swt menjelaskan hal yang sebenarnya, bahwa kedua malaikat itu hanyalah fitnah dan menjadi cobaan bagi manusia untuk sebuah hikmah yang ghaib. Kedua malaikat itu mengatakan kepada setiap orang yang mendatangi dan meminta mereka berdua untuk mengajarinya sihir,
Artinya : “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".
Sekali lagi kita dapati Al Qur’an yang menyatakan bahwa mempelajari dan menggunakan sihir adalah suatu kekufuran. Hal ini disebutkan melalui lisan dua malaikat, yaitu Harut dan Marut.
Dan ada sebagian manusia yang memaksa untuk belajar sihir dari kedua malaikat itu walaupun telah diingatkan dan diberitahu. Maka pada saat itu terjadilah fitnah pada sebagian orang-orang yang yang terkena fitnah :
Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”
Inilah suatu keburukan yang telah diingatkan oleh kedua malaikat itu.... Di sini Al Qur’an menyatakan sebuah kalimat wawasan islam yang mendasar yaitu tidaklah segala sesuatu terjadi di alam ini kecuali dengan izin Allah swt.
Artinya : “dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah”
Dengan izin Allah maka terjadilah sebab-sebab suatu perbuatan, memunculkan bekas-bekasnya dan terealisasi hasil-hasilnya.. Inilah kaidah suatu kalimat yang harus tampak jelas didalam hati seorang mukmin. Permisalahn yang paling dekat adalah apabila anda mengulurkan tangan anda ke api maka ia akan terbakar namun tidaklah terjadi kebakaran itu kecuali dengan izin Allah swt.
Allah lah yang menjadikan api itu membakar dan menjadikan tangan anda terbakar olehnya. Dia juga Maha Kuasa menghentikan kekhususan itu untuk tidak mengizinkan kekhususan itu terjadi, seperti apa yang terjadi terhadap Ibrahim as. Demikian pula sihir yang memisahkan antara seseorang dengan isterinya, dan terjadinya akibat itu dengan izin Allah swt dan Dia swt juga Maha Kuasa untuk menghentikan kekhususan ini untuk tidak terjadi.....
Kemudian Al Qur’an menyatakan hal sebenarnya yang mereka pelajari dan apa yang memisahkan antara mereka dari isterinya... sesungguhnya itu adalah kejahatan yang menimpa diri mereka sendiri dan bukanlah kebaikan :
Artinya : “dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.”
Dan cukuplah kejahatan ini adalah kekufuran yang menjadi mudharat sesungguhnya yang tidak ada manfaat didalamnya.
Artinya : “Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”
Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa apa yang mereka beli (sihir itu) tidaklah ada bagian baginya di akherat, yaitu ketika mereka memilih untuk membelinya maka hilanglah seluruh persediaan miliknya di akherat dan juga setiap bagiannya...
Maka sungguh buruklah apa yang diri mereka beli seandainya mereka mengetahui kenyataan dari transaksi tersebut :
Artinya :”dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” --(Fi Zhilalil Qur’an juz I hal 95 – 96)
Tentang pengajaran sihir yang diberikan Harut dan Marut ini, telah diriwayatkan dari Ali ra yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka,”Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan.” (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472)
MEMBONGKAR FITNAH WAHABI KE ATAS PMIUTM
Saya merasa terpanggil untuk memberikan sedikit penjelasan dan pencerahan terhadap tuduhan dan fitnah yang dilemparkan kepada batang tubuh PMI. Tuduhan yang tidak berasas itu datang daripada shoutbox yang menggelarkan dirinya sebagai ABDULLAH.
Saya merasakan ini berikutan berikutan kenyataan media pihak PMI menyatakan sokongan dan mempertikai tindakan yang dibuat oleh JAIS. Pada asasnya saya juga bersetuju dengan pandangan PMI ini tetapi melemparkan tuduhan bahawa silibus usrah PMI wahabi adalah tuduhan yang berat dan tidak bertanggungjawab!
Untuk itu, disini saya cuba untuk membongkar disebalik fitnah yang cuba dipalitkan kepada PMIUTM. Artikel ini telah saya edit dan ubah tanpa mengubah maksud sebenar mengikut situasi yang berlaku di kampus UTM.
Doktirin Benci Wahabi
Doktrin benci wahabi sering kedengaran sejak sekian lama. Wahabi disinonimkan dengan gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. Dakwaan gerakan ini tidak bermazhab, merupakan satu tuduhan melulu; yang tidak berlandaskan perdebatan ilmu.
Muhammad bin Abdul Wahab sendiri pernah mengakui bahawa beliau bermazhab Hanbali. Jika ini berlaku, bagaimana tuduhan tidak bermazhab dilemparkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab?
Hakikatnya, pertembungan yang berlaku hanyalah, dakwaan sahaja. satu pihak mendakwa, mereka sebenarnya ahl As-Sunnah wa Al-Jamaah. Satu pihak yang lain pula, mendakwa bahawa mereka sebenarnya ahl as-sunnah wa al-jamaah, disamping menafikan satu pihak yang lain.
SALAFI DAN KHALAF
Jika membaca balik sejarah kelahiran istilah salafi dan Khalaf, mungkin kita agak memahaminya. Apa yang ingin diulas, golongan yang mendakwa sebagai salafi pada asalnya adalah dari kelompok yang mendakwa sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, atau dikenali sebagai “hanabilah”.
Mereka adalah penerus kepada perjuangan Imam Ahmad bin Hanbal yang berhadapan kesesatan golongan muktazilah yang telah menyebarkan kesesatannya kepada masyarakat umum.
Dari itu, golongan hanabilah mula membicarakan perkara-perkara yang berkaitan dengan tauhid yang turut menyentuh mengenai “ayat mutasyabihat”. Hasil dari perbincangan tersebut, maka lahirlah pegangan yang disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagai mewakili perbincangan beliau. Seterusnya, ia telah menimbulkan pertikaian sesame hanabilah sendiri dalam kontek penyandarannya kepada Imam Ahmad bin Hanbal.[1] Kemudian dari itu, lahir pula Imam Abu Al-Hasan Al-Ashari dan pengikutnya yang digelar sebagai “Ashaa’irah”. Kelahiran mereka adalah selepas zaman Imam Ahmad bin Hanbal yang membawa pendekatan mutakallimin untuk mempertahankan aqidah ahl al-sunnah wa al-jamaah dalam menghadapi muktazilah. Namun, konsep dan pandangan asaariyyah itu tidak dapat diterima oleh mereka yang berpegang dengan pendekatan generasi awalan dari kalangan yang mendakwa pengikut Imam Ahmad bin Hanbal[2].
Para ashaairah mengisytiharkan bahawa mereka mempertahankan akidah islam dengan perantaraan ilmu kalam atau pendekatan logic akal dan menganggap sebagai kesinambungan daripada generasi salaf. Lantas mereka menggelarkan diri mereka sebagai khalaf sebagai perbedaan terhadap mereka yang sebelumnya. Berikutan itu, gelaran salaf mula digunakan sebagai lawan kepada gelaran khalaf.[3] Pertelingkahan yang sengit di antara salafiyyah hanabilah dan ashaairah tercetus disebabkan kemunculan pendirian salaf semasa teguhnya kedudukan ashaairah dalam mendominasi bentuk pegangan tauhid umat Islam sejak sekian lama. Kemunculan ketika itu seolah-olah mencabar pengaruh ashairah sehingga masing-masing mendakwa sebagai mewakili pegangan sebenar generasi salaf.[4] Apa yang dapat difahami dari kupasan ringkas ini, hakikat sebenar perbedaan ini berlaku, ekoran dari cara dan kaedah mereka berhadapan dengan muktazilah sahaja. Puak yang didakwa salafi, menggunakan method Hanabilah dalam berhadapan dengan Muktazilah, adapun Khalaf menggunakan method Asha’irah dalam berhadapan dengan Muktazilah.
Kedua-dua method ini, sebenarnya mempunyai satu matlamat, iaitu berhadapan dengan muktazilah. Ia sama seperti mahu ke kelantan, sama ada menggunakan laluan Kuala terengganu, ataupun menggunakan laluan Gua Musang.
METHOD HANABILAH DAN ASYA’IRAH
Method hanabilah dalam berhadapan dengan Muktazilah, lebih kepada berhujjah terus dengan merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah. Adapun Asyairah, method menghadapi muktazilah dengan cara mengemukakan hujjah aqli terlebih dahulu, kemudian mengkuatkannya dengan merujuk kepada kandungan al-Quran dan as-Sunnah.
Ia sama seperti kita memahamkan non Muslim dengan islam dengan terus merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah, ataupun dengan cara mengemukakan pembuktian sains terlebih dahulu, baru dikemukakan dokongan al-Quran dan as-Sunnah.
Jika difikirkan, di manakah salah antara dua kaedah ini? yang menjadi perbalahannya adalah, apabila tidak memahami hakikat khilaf bermethod sahaja.
Wahabi adalah satu gerakan yang sebenarnya merujuk kepada gerakan dakwah yang disambung dari Imam Ibnu Taimiyyah, sedangkan Imam Ibnu taimiyyah sendiri adalah seorang tokoh ulama yang menyambung perjuangan Hanabilah.
Tidak dinafikan, tahlil arwah, talqin mayat dan seumpamanya, sememangnya tidak wujud dalam mazhab as-Syafie, tetapi ia tidak bermakna, ia tidak wujud pada pendapat-pendapat ulama-ulama yang lain.
Makanya, apa yang hendak ditekankan disini adalah, pertembungan tentang salafi dan Khalaf atau Wahabi dan Asy’ari merupakan pertembungan yang tidak menguntung Islam sama sekali, kerana ia boleh diselesaikan dengan kaedah yang menyebut, ’kita bertoleransi dalam perkara yang dikhilafkan oleh ulama, dan bersatu teguh dalam mempertahankan perkara yang disepakati’.
Sebaliknya, jika tetap pertembungan ini diteruskan juga, ia hanya berjaya melahirkan polimik yang tidak berkesudahan, yang sudah pasti akan menyebabkan non Muslim akan berjauhan dari islam, dan seterusnya melambatkan kemenangan islam.
Yang paling penting bagi kita di Malaysia kini adalah, fokuskan kepada menyerang Muktazilah moden.
Sekian
Wallahu ’Alam
Al-Bakistani
- Sri Indah (B), Sg Buloh
2 november 2009 * 2:00 petang
[1] Sumbangan aliran asyairah dan Salafiyyah dibidang Usuluddin : lakaran semula sejarah pemikiran tauhid Ahl Al-Sunnah : m/s 20.
[2] Sumbangan aliran asyairah dan Salafiyyah dibidang Usuluddin : lakaran semula sejarah pemikiran tauhid Ahl Al-Sunnah : m/s 22.
[3] Salaf dan Khalaf : hakikat dan Implikasinya : m/s 4.
[4] Tarikh Al-Mazahib Al-Islamiyyah fi As-siyasah wa al-‘aqaid wa tarikh al-mazahib al-fiqhiyyah : m/s 177.
Alhamdulillah... lama sudah tak update blog nie dek tugasan yang bertambah-tambah sejak akhir ini.
Usrah aku minggu lepas timbul persoalan dr adik-adik usrahku berhubung ttg puasa sunat dan puasa Qadha.
Jadi artikel ini hanya sekadar perkongsian kpd shbt sekalian berhubung ttg puasa sunat 6hari dan puasa Qadha... Semoga ada kebaikannya...
Jika ada yang bertanya manakah yang lebih baik di antara puasa sunat syawwal dan puasa qadha?. Jawapannya sudah tentu adalah puasa Qadha. Ini terbukti dari hadis Qudsi yang sohih
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه
Ertinya : "..dan tidaklah hampir kepadaku seorang hambaKu dengan apa juapun, maka yang lebih ku sukai adalah mereka melaksanakan amalan fardhu/wajib ke atas mereka, dan sentiasalah mereka ingin menghampirkan diri mereka kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunat sehinggalah aku kasih kepadanya..." (Riwayat Al-Bukhari, no 6021)
Hadis tadi sebagai asas keutamaan, walau bagaimanapun dari sudut praktikal jawapannya mungkin berbeza menurut keadaan diri seseorang.
Maksudnya begini, jika seseorang itu perlu Qadha puasanya selama 30, berpuluh atau berbelas hari (kerana nifas atau haid yang lama di bulan Ramadan sebagai contoh) dan tubuhnya juga sihat dan di yakini masih kuat. Eloklah ia mengerjakan puasa sunat Syawwal terlebih dahulu di ketika itu . Ini adalah kerana waktu sunnat puasa Syawwal yang singkat berbanding Qadha (sepanjang tahun).
Bagaimanapun harus di ingat, walaupun waktu bagi puasa Qadha adalah panjang, kita tetap tidak pasti adakah kita mampu sampai ke tarikh itu atau ajal menjelang dahulu.
Seseorang yang mati sebelum mengganti puasa Ramadannya tetapi sudah berpuasa sunat Syawwal akan pasti bermasalah kerana ia dikira masih berhutang dengan Allah SWT.
Bagaimanapun seseorang yang mati setelah berjaya menggantikan puasanya tetapi tidak sempat berpuasa sunat Syawwal, pastinya tiada sebarang masalah pun, malah mungkin ia juga mungkin boleh mendapat pahala sunat syawal itu sekali. Berdasarkan sabda Nabi SAW
إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة ومن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له سيئة واحدة
Ertinya " ... barangsiapa yang beringinan melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, telah di tuliskan oleh Allah baginya pahala penuh, maka jika ia beringinan dan kemudian melakukannya, di tuliskan 10 pahala sehingga 700 kali ganda.." ( Riwayat Al-Bukhari, no 6010)
Kita harus memahami bahawa darjat puasa Qadha adalah lebih tinggi dan tanggungjawab bagi menunaikannya adalah jauh lebih besar dari sunat Syawwal, ini kerana puasa qadha adalah puasa wajib dan merupakan 'hutang' ibadah dengan Allah berbanding puasa syawwal yang hanyalah sebagai tambahan pahala.
Isu Gabung Sunat dan Qadha
Isu menggabungkan puasa qadha dan syawal sememangnya amat popular, pandangan ringkas saya adalah seperti berikut :-
Tidak elok untuk menggabungkan kedua-duanya bagi mereka yang mampu (dari sudut kesihatan tubuh dan lain-lain) untuk memisahkannya. Ini kerana sepengetahuan saya tiada dalil yang specifik membuktikan Nabi SAW pernah melakukannya atau menganjurkan kepada para sahabat untuk menggabungkannya.
Apabila Nabi, sahabat dan salaf soleh tidak melakukannya maka pastinya ia bukanlah amalan yang terpilih dan terbaik kerana pilihan Nabi SAW dan para sahabat selamanya adalah yang terbaik.
Malah terdapat juga hujjah-hujjah yang menyebabkan pandangan yang yang mengharuskan penggabungan 'qadha dan ganti' itu dipersoalkan, iaitu :-
1. Jika seseorang mengatakan boleh gabung puasa qadha (yang wajib) dengan puasa syawwal (yang sunat) maka sudah tentu selepas ini timbul pula individu yang cuba menggabungkan solat wajib dengan solat sunat, seperti gabungan solat isyak dengan terawih, atau subuh dengan 'tahiyyatul masjid' atau dengan solat sunat fajar, atau solat jumaat dengan solat sunat 'tahiyyatul masjid'. Maka ini pasti menyebabkan masalah lain timbul dalam ibadah wajib termasuk rekaan-rekaan pelik seperti solat fardhu subuh campur istikharah dan lain-lain.
2. Menurut Prof. Dr Syeikh Abd Malik as-Sa'dy (ex-Lajnah Fatwa Iraq) dan Prof Dr Mohd 'Uqlah el-Ibrahim (Jordan) mereka berpendapat bahawa amalan wajib tidak boleh digabungkan dengan apa-apa amalan wajib atau sunat lain, kerana amalan wajib memerlukan tumpuan khusus yang tidak berbelah bahagi semasa pelaksanaannya dan ia perlu bagi mengangkat tuntutan kewajibannya. Justeru, tindakan menggabungkan ini pasti mengurangkan kesempurnaan hamba dalam menunaikan tuntutan wajib mereka. Wallahu a'lam.
3. Tindakan A'isyah r.a yang melewatkan Qadha pula boleh di jadikan hujjah bahawa beliau mengasingkan kedua-dua puasa Qadha dan Syawwal. Maka inilah yang terpilih sepatutnya. (tidak gabungkan kerana Aisyah r.a tidak menggabungkannya) . Aisyah menyebut :
كأن يكون عليّ الصيام من شهر رمضان فما أقضيه حتى يجئ شعبان
Ertinya : Kewajiban ke atasku untuk puasa (Qadha) dari puasa Ramdhan, tidaklah aku menggantinya sehingga datang sya'ban" ( Riwayat Muslim, no 101)
4. Amalan wajib (qadha) memerlukan niat yang 'jazam' (tepat dan pasti) maka tindakan mengabungkan ia dengan niat puasa sunat mungkin boleh merosakkannya kepastiannya. Kerana itulah ulama yang mengizinkannya mencadangkan agar diniat puasa qadha sahaja, adapun syawwal itu dipendam sahaja dengan harapan Allah menerimanya.
Bagaimanapun, ulama yang mencadangkan ini jelas menyatakan bahawa tindakan menggabungkannya tetap mengurangkan pahala sunat syawwal ini kerana tidak diniat dan tidak dilakukan sepenuhnya (Hasyiah As-Syarqawi 'ala al-Tahrir, Syeikh Zakaria Al-Ansary, 1/427; naqal dari Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, Atiyyah Saqr, 2/23)
5. Malah ada pula yang berhujjah bahawa amalan sunat tidak boleh ditunaikan sebelum amalan fardu. Demikian menurut Syeikh Abu Raghib al-Asfahani, Syeikh Ihsan Muhammad 'Aayish al-'Utaibi dan juga di sebutkan oleh Dr Yusof Al-Qaradawi di dalam kitabnya Fiqh Awalwiyyat. Ini ada asasnya kerana berdasarkan hadith Nabi SAW
من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال فكأنما صام الدهر
Ertinya: "Barangsiapa telah berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan 6 hari dari dari Syawwal (puasa) maka ia adalah seperti (pahala) puasa ad-Dahr (setahun)" (Riwayat Al-Bukhari, no 6502).
6. Kita dapat melihat penggunaan 'fe'il madhi' iaitu 'past tense' bagi puasa Ramadan, mungkin sahaja boleh membawa makna sesiapa yang belum lengkap puasa Ramadannya perlulah melengkapkan dahulu, kemudian barulah mereka layak bagi mendapat peruntukan pahala sunat Syawwal.
7. Hujjah ulama yang mengharuskannya adalah hadith
" Sesungguhnya amalan itu berdasarkan kepada niat, dan bagi seseorang apa yang diniatkan." (Riwayat Bukhari, no 1, 1/12)
Ia dilihat agak umum, memang benar apa yang diniatkan adalah penting, tetapi niat mempunyai kaedah dan cara-caranya bagi diterima, contohnya seperti niat solat yang di cadangkan di dalam mazhab Syafie dimulakan semasa lafaz takbiratul ihram di sebut, jika tidak niat itu tidak dikira. (Rujuk Al-umm, hlm 78, cet Baytul Afkar; Rawdhah At-Tolibin, An-Nawawi, cet Baytul Afkar, hlm 103).
Justeru, niat juga ada displinnya dan tidak boleh di buat sesuka hati di dalam ibadah.
Kesimpulan
Kesimpulan dalam yang mengutarakan perbincangan yang terbatas ini : Elok sangat tidak digabungkan dan elok sangat didahulukan yang wajib (qadha) daripada sunat (syawwal);
Pandangan yang membolehkan saya anggap sebagai rukhsah "keringanan" bagi mereka yang mempunyai kesukaran kerana uzur dan tidak mampu untuk mengasingkannya. Antara ulama yang membolehkan untuk menggabungkannya adalah beberapa ulama dari mazhab Syafie (Mughni al-Muhtaj, 1/602), Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA), Syeikh Atiyyah Saqar, panelis fiqh Islam online.net dan beberapa yang lain.
Alhamdulillah, hari ini kita telah 5 hari menyambut kedatangan bulan Syawal. Kemeriahan eidulfitri masih terasa… dari satu rumah ke satu rumah kita kunjungi..Pelbagai jenis hidangan yang kita nikmati… Yang menjadi mangsa keadaan adalah PERUT. Kesian kat PERUT… Baru berehat sebulan sudah dibebankan dengan tugasan yang berlambak.
Oleh itu, kesempatan ini saya ingin berkongsi sedikit beberapa nasihat Imam Al-Ghazali berkenaan tentang PERUT dlm kitabnya Minhajul Abidin. Semoga prestasi ibadah kita tidak terjejas selepas ditarbiyah sebulan. Bukan senang nak dapat tarbiyah Ramadan ini. Hanya pilihan Allah sahaja yang menerimanya. Baiklah… Mari sama-sama kita menghayati dan mengamalkan nasihat Hujjatul Islam ini.
PERUT merupakan bahagian yang paling sukar dibaiki serta paling besar mudarat dan pengaruhnya. PERUT ibarat mata air dan merupakan sumber tenaga bagi seluruh badan. Maka, WAJIB bagi kita menjaganya dari perkara yang HARAM dan SYUBHAT.
Ini kerana menurut Imam al-Ghazali ada 3 sebab mengapa kita perlu menjaga perut kita dr pkr yg HARAM dan SYUBHAT iaitu:
Takutkan api neraka seperti dlm hadis nabi saw:
" setiap daging yg tumbuh dr makanan HARAM, api neraka akn lebih cepat menyambarnya"
Tidak akan diberi taufik dlm beribadah. Ini kerana org spt ini tidak layak utk berkhidmat kpd Allah swt.
Terhalang dari melakukan kebaikan. Jika dia melaksanakan kebaikan pun amalannya itu akan ditolak.
"Allah tidak akan menerima solat seseorang yang dlm perutnya penuh dgn makanan HARAM" (riwayatkan oleh Ibnu Abbas)
Yahya bin Muaz berkata bahawa TAAT itu tersimpan dlm gudang-gudang Allah yang lubang kuncinya adlh DOA dan anak kuncinya adlh barang yang HALAL. Jika anak kunci itu tidak ada maka pintu tidak akan dapat dibuka. Dan jika pintu tidak dpt dibuka maka bagaimana seseorang itu boleh mendapat TAAT??
Memakan makanan yang HALAL secara berlebihan merupakan PENYAKIT bagi ahli ibadah dan BALA` bagi ahli ijtihad.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahawa ada terdapat banyak keburukan apabila kita tidak menjaga PERUT dr pkr HARAM dan SYUBHAT serta makan makanan yg berlebihan. Antaranya adalah:
Menjadikan HATI keras dan memadamkan sinarnya.
"jgnlah kamu mematikan HATI dgn makan dan minum berlebihan meskipun mknan dan minuman itu halal. Sebab HATI ibarat tumbuh-tumbuhan jika terlalu byk disiram ia akan mati" (al-hadith)
Menyempitkan akal, fikiran dan pengetahuan. Imam ad-Daraquthni pernah berkata, "jika engkau menginginkan sst di antara kebutuhan dunia dan akhirat jgnlah makan dulu sebelum tercapai maksud itu. Sebab makan menjadikan fikiran menjadi lesu. Hal itu jelad dirasakan oleh yg pernah mengalaminya."
Mengakibatkan malas beribadah.
Menghilangkan kemanisan beribadah.
"Sejak memeluk Islam belum pernh aku merasakan kenyang kerana aku ingin mengecapi manisnya beribadah." Abu Bakar As-Siddiq.
Menjerumuskan kepada perbuatan SYUBHAT dan HARAM.
"Sesungguhnya yg halal itu tidak datang kpdmu melainkan sbg bekal. Dan yg HARAM dtg kepadamu dgn melimpah" (al-hadith)
Akan menyukarkan kita sewaktu sakaratul maut dan dipadang mashyar nanti.
"sakitnya sakaratul maut itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia. Sebab, byk mengambil kesenangan dunia bererti byk menerima kepayahan diakhirat" (al-hadith)
Mengakibatkan berkurangnya pahala.
"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan); Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik."(al-Ahqaf:20)
" barangsiapa menginginkan dirinya menjadi orang yang paling mulia, hendaklah bertaqwa kepada Allah."
Baru-baru ini, aku sering kali dihujani dengan pertanyaan adik-adik usrahku tentang doa qunut... Beberapa buah surau kolej tidak membaca doa qunut ketika solat subuh.
Dengan ilmu dan kefahaman yang sedikit aku memberikan respon, "doa qunut ini sunat ab`ad menurut Imam Syafie. Jadi sewajarnya Imam solat subuh tersebut menghormati pegangan kita ini walaupun mungkin imam tersebut mempunyai hujah lain. Belajarlah akhlak bermahzab daripada Imam Syafie"
Alhamdulillah, diberikan sedikit kelapangan masa. Disini aku turunkan perbahasan berkenaan doa qunut itu. Semoga ia menjadi manfaat kepada kita semua... Belajarlah kita bersikap tasammuh (menghormati) pegangan orang lain...
Para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa qunut dibaca didalam sholat witir. Mereka berpendapat qunut ini dilakukan sebelum ruku’. Qunut tidak dilakukan pada sholat-sholat selain witir kecuali apabila terjadi suatu bencana maka ia dilakukan di sholat-sholat yang dikeraskan bacaannya. Adapun bahwa nabi telah melakukan qunut selama satu bulan saat sholat subuh ini telah dimansukh (dihapus) menurut ijma, dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau saw pernah melakukan qunut didalam sholat subuh selam satu bulan kemudian dia saw meninggalkannya.” (HR. al Bazaar, Thabrani dan Ibnu Abi syaibah).
Para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa disunnahkan qunut dibaca dengan suara pelan didalam sholat shubuh saja dan tidak disaat sholat witir dan selainnya karena hal itu makruh. Qunut itu afdhol dilakukan sebelum ruku’ walaupun jika dilakukan setelah ruku’ juga boleh.
Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa disunnahkan qunut itu dilakukan saat i’tidal (bangun dari ruku’) di raka’at kedua sholat subuh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw melakukan qunut sholat subuh hingga beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad, Abdur Razaq dan Daru Quthni). Dan Umar ra juga melakukan qunut di sholat subuh dan dihadiri oleh para sahabat yang lainnya.
Para ulama madzhab Hambali berpendapat seperti para ulama madzhab Hanafi bahwa qunut disunnahkan didalam sholat witir yang satu rakaat.sepanjang tahun, ia dilakukan setelah ruku’. Dan sebagaimana pendapat Syafi’i bahwa qunut juga dilakukan pada sholat witir di bagian kedua akhir dari bulan Ramadhan, namun jika ada yang melakukan qunut sebelum ruku’ pun tidak masalah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw melakukan qunut setelah ruku’.” (HR. Muslim) serta yang diriwayatkan dari Humaid berkata, “Bahwa Anas pernah ditanya tentang qunut didalam sholat shubuh? Dia menjawa,’Kami dahulu melakukan qunut sebelum ruku’ juga sesudahnya.” (HR. Ibnu Majah) – (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz 2 hal 1001 -1008)