Showing posts with label petikan tazkirah. Show all posts
Showing posts with label petikan tazkirah. Show all posts

Wednesday, September 22, 2010

Tidur Selepas Subuh...


Fuqaha’ memandang makruh tidur selepas dari solat subuh.

Dalil-dalil mereka adalah seperti berikut;

Pertama;

Anak kesayangan nabi SAW, Fatimah bercerita bahawa satu hari Rasulullah SAW lalu di rumahnya dalam waktu subuh, dan didapati bahawa Fatimah sedang berbaring. Lalu Rasulullah SAW menggerakkan Fatimah dengan kakinya sambil berkata;

يا بنية قومي اشهدي رزق ربك ، ولا تكوني من الغافلين ، فإن الله يقسم أرزاق الناس ما بين طلوع الفجر إلى طلوع الشمس

Maksudnya;
“Wahai anak perempuanku, carilah rezeki tuhanmu, dan jangan kamu jadi dari kalangan orang yang lalai. Kerana sesungguhnya Allah SWT membahagikan rezeki-rezeki manusia itu, diantara terbit fajar hingga terbit matahari” [Sya’b Al-Iman : 4550 : sanad hadis ini lemah]

Kedua:

Daripada Aisyah, bahawa Rasulullah SAW bersabda;

باكروا طلب الرزق والحوائج ، فإن الغدو بركة ونجاح

Maksudnya;
“berpagi-pagilah kamu dalam mencari rezeki, kerana bekerja pada awal siang itu terdapat keberkatan dan kejayaan” [Al-Mu’jam Al-Awsat : 7458]

Ketiga;

Daripada Sokhr Al-Ghamidzi bahawa Rasulullah SAW ada berdoa;

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

Maksudnya;
“Ya Allah, berilah keberkatan kepada umatku pada waktu paginya” [Abu daud : 2239]

Keempat:

Kebiasaan Nabi SAW, apabila berlaku peperangan, nabi SAW akan menghantar tentera dalam peperangan, atau ekspedisi pada awal pagi. [Abu Daud : 2239]

Kelima:

Saidina Ali berkata;

مِنْ الْجَهْلِ النَّوْمُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ

Maksudnya;
“sebahagian dari kejahilan, tidur pada awal siang”

Tuesday, September 21, 2010

Berbanggalah Menjadi MUSLIM!!!

Saya masih ingat ketika pertama kali membaca rantaian sanad yang menghubungkan diri saya dengan kitab “Sunan Al-Tirmidzi”. Saya begitu gembira melihat nama-nama ulama yang tercantum di dalamnya sambil membayangkan kebesaran jiwa dan ketinggian ilmu mereka. Salah satu dari nama itu sangat saya kenali, iaitu Abdul Wahab bin Ahmad Al-Sya’rani.


Beliau seorang ulama Mesir yang dilahirkan pada tahun 898 H dan wafat pada tahun 973 H. Beliau sempat berjumpa dengan Imam ahli hadis di Mesir, Jalaluddin Al-Suyuthi, dan belajar dengan ulama-ulama terkenal seperti Syeikh Zakaria Al-Anshari, Nashiruddin Al-Laqani, Syihabuddin Al-Ramli dan lain-lain. Singkat cerita, Asy Sya’rani kemudian terkenal sebagai seorang ulama Mesir yang memiliki ramai murid. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh besar kerajaan juga sering berkunjung ke tempatnya.

Saya teringat suatu kisah. Suatu hari Perdana Menteri Ali Pasya berkata kepadanya, “Besok aku akan menghadap sultan. Jika engkau mempunyai hajat yang hendak disampaikan kepadanya, beritahukan kami.” Apakah jawapan al-Sya’rani? Sebagai ulama yang bangga dengan kedudukannya di sisi Allah, beliau hanya tersenyum lalu berkata, “Alhamdulillah, kami tidak memerlukan apa-apa daripada sultan. Namun jika engkau mempunyai hajat yang hendak disampaikan kepada Allah, beritahukan kami.”

Mendengar itu, Ali Pasya menunduk beberapa lama. Dia lalu berkata, “Astaghfirullah.Kalian sangat bergantung kepada Allah, sementara kami sangat bergantung kepada hamba-Nya. Kalian yang lebih benar. Sebab Allah memiliki semua kerajaan di langit dan di bumi.”


Petikan nasihat Ust Umar Muhd Nor HafizulLah

Tuesday, February 24, 2009

Dakwah Tidak Dipikul oleh orang yang MANJA

Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.

Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah.

Cubalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meredhai mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercabut. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena pengorbanan yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun dapat menikmati hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meredhai mereka.

Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat insan-insan yang dapat bertahan dalam mengharungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengukuhkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cubaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan.

Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan hadapan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.

Sebaliknya orang-orang yang lemah jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.

Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:

"Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)

Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan senjata yang ampuh dalam dakwah ini. Sikap ini membuatkan mereka stand by dalam menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

Apabila ditugaskan sebagai prajurit dibarisan hadapan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bahagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang pulang dari tempatnya bekerja tetapi sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton.

Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, dia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah dia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pergi untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan wang untuk menaiki teksi.

'Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan teksi dan kereta mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Kerana itu,ambillah wang ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sekejap.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khuwatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.

Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang tidak akan pernah dimungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang beriman yang setia pada jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)

Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)

Wahai ikhwah kekasih Allah swt.

Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan

Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.

Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah swt.

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.

Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan.

Wallahu’alam.

Tuesday, November 4, 2008

Kurniakan aku ISTIQAMAH ya Allah...

Perkara yang amat sukar dalam hidup ini adalah istiqamah atas kebenaran. Istiqamah bermaksud berdiri teguh sepanjang masa berada atas kebenaran dan petunjuk, tanpa berpaling ke kiri atau ke kanan. Kata Saidina ‘Umar bin al-Khattab:

“Istiqamah itu kamu berdiri terus mematuhi suruhan dan larangan Allah tanpa berubah-ubah seperti musang” (Ibn Qayyim, Tahzib Madarij al-Salikin, 2/528, Beirut: Muassasah Fuad).

Inilah perkara yang ringkas disebut, berat untuk dilaksanakan dalam hidup. Jadi, istiqamah mempertahankan kebenaran bererti sentiasa berdiri teguh menegakkan kebenaran dalam apa keadaan sekalipun.

Mempertahankan kebenaran secara istiqamah bukanlah tugas yang ringan. Sekalipun ramai yang pandai berceramah atau berslogan sakan tentang kewajipan dan amanah berdiri teguh atas kebenaran, tetapi belum tentu yang berceramah itu sanggup menghadapi badai cabaran pada setiap musim. Jika ada yang sanggup mempertahankan kebenaran dalam beberapa keadaan, malangnya apabila tiba waktu tertentu dia gugur dan layu.

Ada yang lantang mempertahankan kebenaran bukan kerana kebenaran itu dituntut, tetapi kerana merasakan ‘pasaran’ tajuk tersebut laris untuk dilelong, maka dia pun sakan berkempen. Sehingga sekali pandang seakan dia pejuang kebenaran.

Malangnya, apabila tiba pada masa kebenaran itu tidak mendapat sambutan, dia pun menyembunyikan diri dan lari. Bahkan lebih buruk lagi, dia pun mungkin akan bersekongkol dalam menyindir atau menentang kebenaran.

Insan yang beristiqamah tidak sedemikian rupa. Dia akan mempertahankan kebenaran di kala orang ramai suka dan tidak suka. Di kala kebenaran diterima ramai, atau ditolak orang. Tanpa mengira, samada mempertahankan kebenaran itu mengundang untung, atau rugi. Samada dia disukai kerananya, atau dibenci.

Kebenaran adalah kebenaran. Dia tidak akan menukarkan kebenaran dengan kebatilan hanya disebabkan kepentingan habuan yang diharapkan, atau pangkat yang diidamkan.

Ramai insan yang telah mengorbankan kebenaran kerana sayangkan hartanya. Ada yang menolak kebenaran hanya kerana pangkat yang dipegangnya. Bukan kerana mereka tidak tahu yang benar itu benar.

Justeru itu Allah mengingatkan Bani Israil yang merupakan kaum yang mengetahui kebenaran yang pernah turun kepada Nabi Musa a.s. Mereka sepatutnya menjadi orang yang awal beriman dengan Nabi Muhammad s.a.w. kerana mereka memahami kebenaran. Malangnya mereka menolak, atas kepentingan.

Firman Allah: (maksudnya)

“Wahai Bani Israil! Kenangkanlah kamu akan segala nikmat yang telah Aku berikan kepada kamu, dan sempurnakanlah perjanjian (kamu) denganKu, supaya Aku sempurnakan perjanjianKu Dengan kamu; dan kepada Akulah sahaja hendaknya kamu merasa gerun. Dan berimanlah kamu dengan apa yang Aku turunkan (Al-Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang mula-mula kafir (engkar) dengannya; dan janganlah pula kamu menjadikan ayat-ayatKu (sebagai harga untuk) membeli perkara-perkara yang murah; dan kepada Akulah sahaja hendaklah kamu bertaqwa.Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar itu dengan yang salah, dan kamu sembunyikan yang benar itu pula padahal kamu semua mengetahuinya”. (Surah al-Baqarah, ayat 40-42).

Maka tidak hairanlah, betapa ramai golongan agama dalam dunia ini yang kerana diberi pangkat ‘mufti’ atau ‘kadi’ atau ‘pengarah itu dan ini’ lalu mereka mendiamkan tanpa menegur kesalahan yang nyata di depan mata sedangkan mereka mampu. Bukan mereka tidak tahu, namun mereka bimbang jawatan mereka dikacau orang. Padahal, dengan jawatan yang diberikan, banyak perkara yang dapat ditegur dan dibetulkan. Namun mereka mendiamkan diri bagaikan ada butiran permata dan berlian yang tersimpan.

Sebenarnya, bukan permata atau berlian yang tesimpan di lisan, tetapi jawatan yang tersimpan dalam perasaan. Bak kata lirik: “Hendak mati di hujung kuku, hendak berkubur di tapak tangan”. Mungkin jika lirik itu digubal semula maka jadinya: “Hendak mati di atas kerusi, hendaklah berkubur dalam jawatan”. Apa tidaknya, sesetengah jawatan itu ada kereta khas, pejabat yang besar dan gaji yang besar.

Sepatutnya fungsinya pun besar. Namun, ramai yang berpangkat hanya hebat kerana pangkatnya, tidaklah pula rakyat tahu apakah fungsinya yang telah dimainkan sesuai dengan gaji yang besar yang kaut dengan selesa itu. Jika dibuang pangkatnya, lalu dinilai ucapan, pemikiran, tulisan, bahkan ilmunya, kelihatan tidak lebih, bahkan mungkin kurang daripada sebahagian orang awam yang lain.

Sukarnya untuk kita meminta mereka seperti itu mempertahankan kebenaran sehingga mengorbankan ‘kemeriahan harta’ yang sedang mereka perolehi. Bukan sahaja mereka, ramai yang lain di kalangan manusia yang hanya kerana beberapa kerat harta, atau wang, atau idaman yang dijanjikan, kebenaran diketepikan. Jika mereka tidak tentang pun, mereka diam, sehingga kebenaran itu mati.

Beristiqamah dalam mempertahankan kebenaran bererti seseorang bersedia untuk menanggung risiko sekalipun pahit dan getir. Sanggup dipukul gelombang anti-kebenaran sekalipun menyebabkannya terdampar jauh tersisih ke dataran yang sangat asing. Istiqamah mungkin menyebabkan hilangnya pangkat dan harta.

Namun, kebenaran tidak boleh dijual beli. Itulah jalan para nabi a.s. sepanjang zaman. Para pengikut nabi juga, wajib menyelusuri jalan ini. Di sini kita lihat, besarnya peranan istiqamah dan tidak hairanlah mengapa Allah menjanjikan balasan yang besar kepada mereka yang beristiqamah.

Firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata (menegaskan keyakinannya): “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah (tetap teguh di atas jalan yang betul), akan turun malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): “Janganlah kamu bimbang dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu. Kamilah penolong-penolong kamu dalam kehidupan dunia dan pada hari akhirat; dan kamu akan beroleh - pada hari akhirat - apa yang diingini oleh nafsu kamu, serta kamu akan beroleh - pada hari itu - apa yang kamu cita-citakan mendapatnya.(Pemberian-pemberian yang serba mewah itu) sebagai sambutan penghormatan daripada Allah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani! Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, serta dia sendiri mengerjakan amalan yang soleh, sambil berkata: “Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)!” (Surah Fussilat, ayat 30-33).

Kebenaran itu tidak pernah mengenali pangkat, puak, parti, gelaran dan warna kulit. Kebenaran tidak mempunyai identiti daerah, atau negeri atau bangsa atau keluarga. Kebenaran itu tetap kebenaran berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh Allah dan RasulNya.

Istiqamah mempertahankan kebenaran bererti terus menegakkan kebenaran tanpa mengira pangkat, atau gelaran atau kedudukan atau puak. Ini tidak dapat dilakukan oleh mereka yang bersifat hizbiyyah (kepuakan). Samada ekstrimis parti ataupun kumpulan atau mazhab, atau organisasi tertentu akan gagal beristiqamah apabila tiba giliran kesalahan itu berada di puak mereka.

Ramai tokoh-tokoh yang bersifat hizbiyyah ini akan lantang menghentam dan mengkritik kemungkaran yang lakukan oleh musuh-musuh mereka. Malang sekali, apabila perkara yang sama dilakukan oleh ‘orang mereka’ atau ‘pemimpin mereka’ atau ‘parti mereka’ mereka akan mendiamkan diri.

Kita boleh lihat gelagat parti-parti politik dalam negara kita ini pun. Ada perkara yang dihukum haram atau sesat pada masa lepas, didiamkan sahaja pada hari ini apabila mereka terjerumus sama. Ada pula perkara yang dianggap salah dan tidak bermoral lalu ditentang habis-habisan, tiba-tiba hari ini mereka atau parti mereka pula melakukannya atau mengiktirafnya.

Maka kita tidak hairan jika golongan yang seperti ini bermakian antara satu sama lain pada hari ini. Mungkin besok lusa, atau setahun dua lagi mereka berpelukan dengan mesra sekali. Padahal kedua-dua pihak belum pun mengubah prinsip atau masih atas ‘mazhab lama’, tetapi segala dosa dan nista dapat dilupakan kerana ‘kita sudah geng’ dalam politik.

Jika ada yang mengumpulkan keratan akhbar beberapa tahun dahulu, lalu dibandingkan dengan pendirian politik pada hari ini, akan melihat betapa berbeza perkataan dan penilitian. Bukan sahaja dalam soal remeh temeh, bahkan soal-soal prinsip mereka pun, sudah ramai yang berubah. Jika perubahan itu ke arah positif, kita alu-alukan. Tetapi jika ia bagaikan musang, bak kata Saidina ‘Umar, itu amat mendukacitakan.

Namun, janganlah pula kita hairan, jika setahun dua lagi orang-orang politik yang berkasih sayang pada hari ini, tiba-tiba akan akan berperang kembali antara satu sama lain. Segala kesalahan semasa ‘persahabahatan’ dahulu akan diungkit kembali, dan segala yang didiamkan akan dibising semula.

Hal ini berbeza dengan mereka yang istiqamah. Dalam menegakkan kebenaran tidak pernah mengira samada kawan atau lawan. Parti sendiri atau parti musuh. Seagama, atau berlainan agama. Ini prinsip yang luhur dan telus. Atas prinsip ini jugalah orang-orang bukan Islam dapat hidup dengan aman di bawah pentadbiran Islam. Perbezaan agama tidak pernah menghalang untuk para pemerintah Umat Islam yang adil seperti al-Khulafa’ al-Rasyidin menegakkan kebenaran. Sekalipun dalam membela mereka terpaksa menghukum orang Islam yang bersalah.

Malang dalam dunia aliran buta fakta, celik lambang puak dan kumpulan, berpendirian bagi mereka diukur dengan kesetiaan kepada parti atau kumpulan, atau mazhab sekalipun ternyata dalam perkara yang silap atau salah. Terus setia tanpa bantahan sekalipun atas kesalahan dianggap sebagai istiqamah atau teguh pendirian. Sementara sesiapa yang menyokong atau mengkritik pandangan-pandangan pemimpin atau tokoh berdasarkan fakta dan alasan yang dikemukakan dianggap tidak berpendirian.

Paksi kebenaran bagi mereka adalah tokoh, kumpulan, puak, parti bukan fakta dan alasan. Inilah asabiyyah yang sebenar. Nabi s.a.w pernah bersabda:

“..Sesiapa yang berperang di bawah rayah ‘immiyyah (bendera kebutaan) dan menyeru kepada ‘asabiyyah atau marah kerana ‘asabiyyah maka kematiannya adalah jahiliyyah”. (Riwayat Muslim, al-Nasai dan Ibn Majah).

Kata al-Sindi (meninggal 1138H) dalam mensyarahkan hadis-hadis Sunan Ibn Majah:

“Bendera kebutaan adalah kiasan kepada suatu puak yang berhimpun atas suatu perkara yang tidak diketahui sama ada benar atau batil”. ( Al-Sindi, Syarh Ibn Majah, 4/326 Beirut Dar al-Ma’rifah).

Bimbang takut dikatakan tidak berpendirian, maka ramai insan dalam negara ini yang mengambil sikap sangat berpihak. Mereka kehairanan jika ada sesiapa yang bercakap atas kebenaran tanpa melihat kepada warna kumpulan atau parti, sebaliknya atas kebenaran dan fakta. Mereka tertanya: “kenapa awak sekejap menyokong kami, sekejap tidak? Ini tidak berpendirian namanya”.

Mereka lupa, paksi pendirian itu sepatutnya diukur dengan alasan yang dipegang oleh seseorang. Bukan kumpulan yang disokong. Jika seseorang asyik menyokong kumpulannya sahaja tanpa bertanya samada benar ataupun salah, maka itu namanya ‘pak turut’ atau ‘taklid buta’. Golongan inilah yang sepatutnya dihukum tidak berpendirian.

Malanglah, jika ukuran telah terbalik, maka bak sabda Nabi s.a.w:

“Sesungguhnya sebelum kedatangan dajjal-dalam riwayat yang lain: sebelum kiamat- adanya tahun-tahun yang penuh tipu daya. Ketika itu didustakan orang yang benar, dianggap benar orang yang dusta, dianggap khianat orang yang amanah, dianggap amanah orang yang khianat..” (Hadith ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, Ibnu Majah, al-Kharaiti, dan al-Hakim. Al-Hakim menyatakan isnadnya sahih.dan ini disetujui oleh Al-Zahabi).

Demikian, insan perlu istiqamah dalam pendiriannya, merentasi sempadan parti atau sebarang organisasi. Hidup untuk kebenaran, atas kebenaran. Ia satu prinsip yang lebih utama yang mampu mneyelamatkan manusia dari jatuh ke lembah penyelewengan hidup. Prinsip yang goyah dipukul badai, dan tidak lapuh dek panas mentari.

Dalam hadis Muslim, Sufyan bin Abdillah r.a. pernah bertanya Rasulullah s.a.w:

“Wahai Rasulullah, beritahuku dalam Islam ini satu perkataan yang aku tidak perlu bertanya sesiapa selain engkau”
.

Jawab Nabi s.a.w:

“Katakan: aku beriman dengan Allah, kemudian kamu beristiqamahlah”.

Saturday, April 19, 2008

Adakah kita benar-benar sibuk?


Firman Allah s.w.t.

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), dan mereka pula segera segera pada mengerjakan berbagai-bagai kebajikan. Mereka (yang demikian sifatnya), adalah dari orang-orang yang soleh.

~Surah Ali-Imran, ayat 114~

Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya (seseorang) sekalipun seberat zarah (debu) dan kalaulah (amal yang seberat zarrah) itu amal kebajikan, nescaya akan menggandakannya dan akan memberi, dari sisiNya, pahala yang amat besar.

~Surah An-Nisa, ayat 40~


Skop amal kebajikan amat luas; dari semudah melemparkan senyuman yang menggembirakan orang lain sehinggalah sepayah mengorbankan harta dan masa untuk agama Allah. Ia mudah bagi yang mahu dan sukar bagi yang suka memberi alasan.




Ketika acapkali kita mengajak orang melakukan kebajikan yang memerlukan sedikit pengorbanan masa seperti mengajak sahabat untuk solat jemaah di masjid atau mengajak sahabat ke program-program dakwah, acapkali juga kita mendengar alasan-alasan skema seperti 'takda masa la', 'bizy la nak siapkan homework', 'aku tak sempat pegi. Lain kali ek' dan macam-macam lagi.

Maklumlah, 24 jam sehari amat pendek dan jika ke masjid nak solat jemaah, dah ambil masa 30 minit. Membazir masa namanya. Namun adakah kita benar-benar sibuk atau tidak mempunyai masa sedangkan dalam sehari, kita mampu:


  • menghabiskan 2 jam di depan laptop/komputer untuk 'layan' Youtube
  • menghabiskan 2 jam membaca manga/komik samada online atau offline
  • menghabiskan sejam untuk check akaun friendster/myspace/facebook dan melihat gambar terbaru rakan-rakan kita
  • menghabiskan 2 jam setengah menonton drama bersiri jepun/korea kegemaran kita di samping melihat awek-awek cun jepun/korea berlakon
  • menghabiskan 3 jam di hujung minggu untuk window shopping di shopping complex terutamanya di KLCC
  • menghabiskan sejam setengah sebelum tidur untuk bermain computer games
  • tidur terlalu lama; melebihi had yang sepatutnya
  • dan macam-macam lagi aktiviti yang tidak membawa manfaat kepada ummah

Jika kita kerap melakukan perkara-perkara di atas, patutkah kita memberikan alasan bahawa kita busy/sibuk tatkala kita di offer untuk melakukan kebajikan?? Jawapan di 'tangan' kita semua.