Thursday, November 5, 2009

Misteri Harut dan Marut


Assalamualaikum

Saya ingin bertanya tentang sebuah ayat dlm Al-Qur'an yg menyebutkan kisah tentang dua orang malaikat di Negri Babil yg bernama Harut dan Marut. Sebenarnya siapakah dua malaikat yg bernama Harut dan Marut tersebut ?

Atas perhatian Ust. saya ucapkan terimakasih. Wassalam

Jawapan:

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Zae yang dimuliakan Allah swt

Allah swt berfirman


Artinya : “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.”

(QS. Al Baqoroh : 102)

Syeikh Athiyah Saqar menyebutkan bahwa di beberapa buku tafsir disebutkan kedua malaikat itu telah diturunkan ke bumi sebagai fitnah sehingga Allah swt mengadzab mereka berdua dengan menggantung kedua kaki mereka, perkataan para mufassir ini bukanlah hujjah (dalil) dalam hal ini, hal itu berasal dari warisan masyarakat Babilonia dan penjelasan orang-orang Yahudi serta kitab-kitab Nasrani.

Dan perkataan mereka yang paling dekat tentang kedua malaikat tersebut adalah bahwa masyarakat saat itu mendapatkan fitnah dengan para tukang sihir sehingga mereka mengangkat para tukang sihir itu sampai ke derajat para nabi. Kemudian Allah swt menurunkan dua malaikat untuk mengajarkan kepada manusia sihir agar mereka bisa membedakan antara sihir dengan kenabian serta memperingatkan mereka tentang fitnah terhadapnya. Atau—ada juga yang mengatakan—bahwa mereka berdua adalah dua orang yang memiliki ilmu dan akhlak mulia sehingga menjadi fitnah di masyarakat dan mereka memberikan kepada kedua orang itu nama dua malaikat. Hal ini dari aspek penyerupaan dan gaya bahasa yang sudah difahami sejak dahulu sebagaimana saat ini nama Malaak digunakan untuk seorang yang istimewa.

Didalam cerita-cerita kuno masayarakat Babilonia terdapat dua orang yang memiliki nama mirip yaitu Harut dan Marut. Masyarakat saat itu begitu kagum dengan mereka berdua sehingga memberikan kepada keduanya nama dua malaikat. Bahkan kekaguman mereka terhadap keduanya pun bertambah sehingga meyakini bahwa mereka berdua adalah Tuhan.

Kemudian orang-orang Yahudi mempelajari peninggalan dari kedua orang itu berupa hikmah dan sihir yang menjadikan mereka lebih disibukkan olehnya daripada Kitab Allah dan mereka pun membuang Kitab Allah itu dibelakang punggung mereka.

Tidak diperbolehkan bagi kita untuk merujuk kepada cerita-cerita yang dikatakan mereka itu tentang malaikat yang bertentangan dengan kemaksuman mereka. Para malaikat tidaklah maksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka pun melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, firman Allah swt :

Artinya : “Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. Al Anbiya : 26 – 27)


Artinya : “Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” (QS. Al Anbiya : 19 – 20) – (Fatawa Al Azhar juz VII hal 436)

Firman Allah swt :

Artinya : ”dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut”

Sayyid Qutb mengatakan bahwa terdapat kisah tentang keduanya yang sudah diketahui dimana orang-orang Yahudi atau para setan telah menganggap bahwa mereka berdua (Harut dan Marut) mengetahui tentang sihir dan mengajarkannya kepada manusia dan kedua malaikat itu menganggap bahwa sihir itu diturunkan kepada mereka berdua!

Kemudian Al Qur’an membantah kebohongan ini, kebohongan yang menyatakan bahwa sihir diturunkan kepada kedua malaikat itu.. Selanjutnya Allah swt menjelaskan hal yang sebenarnya, bahwa kedua malaikat itu hanyalah fitnah dan menjadi cobaan bagi manusia untuk sebuah hikmah yang ghaib. Kedua malaikat itu mengatakan kepada setiap orang yang mendatangi dan meminta mereka berdua untuk mengajarinya sihir,


Artinya : “Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir".

Sekali lagi kita dapati Al Qur’an yang menyatakan bahwa mempelajari dan menggunakan sihir adalah suatu kekufuran. Hal ini disebutkan melalui lisan dua malaikat, yaitu Harut dan Marut.

Dan ada sebagian manusia yang memaksa untuk belajar sihir dari kedua malaikat itu walaupun telah diingatkan dan diberitahu. Maka pada saat itu terjadilah fitnah pada sebagian orang-orang yang yang terkena fitnah :


Artinya : “Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya”

Inilah suatu keburukan yang telah diingatkan oleh kedua malaikat itu.... Di sini Al Qur’an menyatakan sebuah kalimat wawasan islam yang mendasar yaitu tidaklah segala sesuatu terjadi di alam ini kecuali dengan izin Allah swt.

Artinya : “dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah”

Dengan izin Allah maka terjadilah sebab-sebab suatu perbuatan, memunculkan bekas-bekasnya dan terealisasi hasil-hasilnya.. Inilah kaidah suatu kalimat yang harus tampak jelas didalam hati seorang mukmin. Permisalahn yang paling dekat adalah apabila anda mengulurkan tangan anda ke api maka ia akan terbakar namun tidaklah terjadi kebakaran itu kecuali dengan izin Allah swt.

Allah lah yang menjadikan api itu membakar dan menjadikan tangan anda terbakar olehnya. Dia juga Maha Kuasa menghentikan kekhususan itu untuk tidak mengizinkan kekhususan itu terjadi, seperti apa yang terjadi terhadap Ibrahim as. Demikian pula sihir yang memisahkan antara seseorang dengan isterinya, dan terjadinya akibat itu dengan izin Allah swt dan Dia swt juga Maha Kuasa untuk menghentikan kekhususan ini untuk tidak terjadi.....

Kemudian Al Qur’an menyatakan hal sebenarnya yang mereka pelajari dan apa yang memisahkan antara mereka dari isterinya... sesungguhnya itu adalah kejahatan yang menimpa diri mereka sendiri dan bukanlah kebaikan :

Artinya : “dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat.”

Dan cukuplah kejahatan ini adalah kekufuran yang menjadi mudharat sesungguhnya yang tidak ada manfaat didalamnya.


Artinya : “Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat”

Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa apa yang mereka beli (sihir itu) tidaklah ada bagian baginya di akherat, yaitu ketika mereka memilih untuk membelinya maka hilanglah seluruh persediaan miliknya di akherat dan juga setiap bagiannya...

Maka sungguh buruklah apa yang diri mereka beli seandainya mereka mengetahui kenyataan dari transaksi tersebut :

Artinya :”dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” --(Fi Zhilalil Qur’an juz I hal 95 – 96)

Tentang pengajaran sihir yang diberikan Harut dan Marut ini, telah diriwayatkan dari Ali ra yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu mengajarkan kepada manusia tentang peringatan terhadap sihir bukan mengajarkan untuk mengajak mereka melakukan sihir. Az Zajjaj mengatakan bahwa perkataan itu adalah juga pendapat kebanyakan ahli bahasa. Artinya bahwa pengajaran kedua malaikat itu kepada manusia adalah berupa larangan, keduanya mengatakan kepada mereka,”Janganlah kalian melakukan ini (sihir) dan janganlah kalian diperdaya dengannya sehingga kalian memisahkan seorang suami dari isterinya dan apa yang diturunkan kepada mereka berdua adalah berupa larangan.” (al Jami li Ahkamil Qur’an juz II hal 472)

Wallahu Alam

Menjawab Tuduhan kepada PMIUTM

MEMBONGKAR FITNAH WAHABI KE ATAS PMIUTM

Saya merasa terpanggil untuk memberikan sedikit penjelasan dan pencerahan terhadap tuduhan dan fitnah yang dilemparkan kepada batang tubuh PMI. Tuduhan yang tidak berasas itu datang daripada shoutbox yang menggelarkan dirinya sebagai ABDULLAH.

Saya merasakan ini berikutan berikutan kenyataan media pihak PMI menyatakan sokongan dan mempertikai tindakan yang dibuat oleh JAIS. Pada asasnya saya juga bersetuju dengan pandangan PMI ini tetapi melemparkan tuduhan bahawa silibus usrah PMI wahabi adalah tuduhan yang berat dan tidak bertanggungjawab!

Untuk itu, disini saya cuba untuk membongkar disebalik fitnah yang cuba dipalitkan kepada PMIUTM. Artikel ini telah saya edit dan ubah tanpa mengubah maksud sebenar mengikut situasi yang berlaku di kampus UTM.

Doktirin Benci Wahabi

Doktrin benci wahabi sering kedengaran sejak sekian lama. Wahabi disinonimkan dengan gerakan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. Dakwaan gerakan ini tidak bermazhab, merupakan satu tuduhan melulu; yang tidak berlandaskan perdebatan ilmu.

Muhammad bin Abdul Wahab sendiri pernah mengakui bahawa beliau bermazhab Hanbali. Jika ini berlaku, bagaimana tuduhan tidak bermazhab dilemparkan kepada Muhammad bin Abdul Wahab?

Hakikatnya, pertembungan yang berlaku hanyalah, dakwaan sahaja. satu pihak mendakwa, mereka sebenarnya ahl As-Sunnah wa Al-Jamaah. Satu pihak yang lain pula, mendakwa bahawa mereka sebenarnya ahl as-sunnah wa al-jamaah, disamping menafikan satu pihak yang lain.

SALAFI DAN KHALAF

Jika membaca balik sejarah kelahiran istilah salafi dan Khalaf, mungkin kita agak memahaminya. Apa yang ingin diulas, golongan yang mendakwa sebagai salafi pada asalnya adalah dari kelompok yang mendakwa sebagai pengikut Imam Ahmad bin Hanbal, atau dikenali sebagai “hanabilah”.

Mereka adalah penerus kepada perjuangan Imam Ahmad bin Hanbal yang berhadapan kesesatan golongan muktazilah yang telah menyebarkan kesesatannya kepada masyarakat umum.

Dari itu, golongan hanabilah mula membicarakan perkara-perkara yang berkaitan dengan tauhid yang turut menyentuh mengenai “ayat mutasyabihat”. Hasil dari perbincangan tersebut, maka lahirlah pegangan yang disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagai mewakili perbincangan beliau. Seterusnya, ia telah menimbulkan pertikaian sesame hanabilah sendiri dalam kontek penyandarannya kepada Imam Ahmad bin Hanbal.
[1]

Kemudian dari itu, lahir pula Imam Abu Al-Hasan Al-Ashari dan pengikutnya yang digelar sebagai “Ashaa’irah”. Kelahiran mereka adalah selepas zaman Imam Ahmad bin Hanbal yang membawa pendekatan mutakallimin untuk mempertahankan aqidah ahl al-sunnah wa al-jamaah dalam menghadapi muktazilah. Namun, konsep dan pandangan asaariyyah itu tidak dapat diterima oleh mereka yang berpegang dengan pendekatan generasi awalan dari kalangan yang mendakwa pengikut Imam Ahmad bin Hanbal
[2].

Para ashaairah mengisytiharkan bahawa mereka mempertahankan akidah islam dengan perantaraan ilmu kalam atau pendekatan logic akal dan menganggap sebagai kesinambungan daripada generasi salaf. Lantas mereka menggelarkan diri mereka sebagai khalaf sebagai perbedaan terhadap mereka yang sebelumnya. Berikutan itu, gelaran salaf mula digunakan sebagai lawan kepada gelaran khalaf.
[3]

Pertelingkahan yang sengit di antara salafiyyah hanabilah dan ashaairah tercetus disebabkan kemunculan pendirian salaf semasa teguhnya kedudukan ashaairah dalam mendominasi bentuk pegangan tauhid umat Islam sejak sekian lama. Kemunculan ketika itu seolah-olah mencabar pengaruh ashairah sehingga masing-masing mendakwa sebagai mewakili pegangan sebenar generasi salaf.
[4]

Apa yang dapat difahami dari kupasan ringkas ini, hakikat sebenar perbedaan ini berlaku, ekoran dari cara dan kaedah mereka berhadapan dengan muktazilah sahaja. Puak yang didakwa salafi, menggunakan method Hanabilah dalam berhadapan dengan Muktazilah, adapun Khalaf menggunakan method Asha’irah dalam berhadapan dengan Muktazilah.

Kedua-dua method ini, sebenarnya mempunyai satu matlamat, iaitu berhadapan dengan muktazilah. Ia sama seperti mahu ke kelantan, sama ada menggunakan laluan Kuala terengganu, ataupun menggunakan laluan Gua Musang.

METHOD HANABILAH DAN ASYA’IRAH

Method hanabilah dalam berhadapan dengan Muktazilah, lebih kepada berhujjah terus dengan merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah. Adapun Asyairah, method menghadapi muktazilah dengan cara mengemukakan hujjah aqli terlebih dahulu, kemudian mengkuatkannya dengan merujuk kepada kandungan al-Quran dan as-Sunnah.

Ia sama seperti kita memahamkan non Muslim dengan islam dengan terus merujuk kepada al-Quran dan as-Sunnah, ataupun dengan cara mengemukakan pembuktian sains terlebih dahulu, baru dikemukakan dokongan al-Quran dan as-Sunnah.

Jika difikirkan, di manakah salah antara dua kaedah ini? yang menjadi perbalahannya adalah, apabila tidak memahami hakikat khilaf bermethod sahaja.

Wahabi adalah satu gerakan yang sebenarnya merujuk kepada gerakan dakwah yang disambung dari Imam Ibnu Taimiyyah, sedangkan Imam Ibnu taimiyyah sendiri adalah seorang tokoh ulama yang menyambung perjuangan Hanabilah.

Tidak dinafikan, tahlil arwah, talqin mayat dan seumpamanya, sememangnya tidak wujud dalam mazhab as-Syafie, tetapi ia tidak bermakna, ia tidak wujud pada pendapat-pendapat ulama-ulama yang lain.

Makanya, apa yang hendak ditekankan disini adalah, pertembungan tentang salafi dan Khalaf atau Wahabi dan Asy’ari merupakan pertembungan yang tidak menguntung Islam sama sekali, kerana ia boleh diselesaikan dengan kaedah yang menyebut, ’kita bertoleransi dalam perkara yang dikhilafkan oleh ulama, dan bersatu teguh dalam mempertahankan perkara yang disepakati’.


Sebaliknya, jika tetap pertembungan ini diteruskan juga, ia hanya berjaya melahirkan polimik yang tidak berkesudahan, yang sudah pasti akan menyebabkan non Muslim akan berjauhan dari islam, dan seterusnya melambatkan kemenangan islam.

Yang paling penting bagi kita di Malaysia kini adalah, fokuskan kepada menyerang Muktazilah moden.

Sekian

Wallahu ’Alam

Al-Bakistani




- Sri Indah (B), Sg Buloh
2 november 2009 * 2:00 petang


[1] Sumbangan aliran asyairah dan Salafiyyah dibidang Usuluddin : lakaran semula sejarah pemikiran tauhid Ahl Al-Sunnah : m/s 20.
[2] Sumbangan aliran asyairah dan Salafiyyah dibidang Usuluddin : lakaran semula sejarah pemikiran tauhid Ahl Al-Sunnah : m/s 22.
[3] Salaf dan Khalaf : hakikat dan Implikasinya : m/s 4.
[4] Tarikh Al-Mazahib Al-Islamiyyah fi As-siyasah wa al-‘aqaid wa tarikh al-mazahib al-fiqhiyyah : m/s 177.

Tuesday, October 6, 2009

Isu sekitar dibulan Syawal

Alhamdulillah... lama sudah tak update blog nie dek tugasan yang bertambah-tambah sejak akhir ini.

Usrah aku minggu lepas timbul persoalan dr adik-adik usrahku berhubung ttg puasa sunat dan puasa Qadha.

Jadi artikel ini hanya sekadar perkongsian kpd shbt sekalian berhubung ttg puasa sunat 6hari dan puasa Qadha... Semoga ada kebaikannya...

Jika ada yang bertanya manakah yang lebih baik di antara puasa sunat syawwal dan puasa qadha?. Jawapannya sudah tentu adalah puasa Qadha. Ini terbukti dari hadis Qudsi yang sohih

وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

Ertinya : "..dan tidaklah hampir kepadaku seorang hambaKu dengan apa juapun, maka yang lebih ku sukai adalah mereka melaksanakan amalan fardhu/wajib ke atas mereka, dan sentiasalah mereka ingin menghampirkan diri mereka kepadaKu dengan mengerjakan amalan sunat sehinggalah aku kasih kepadanya..." (Riwayat Al-Bukhari, no 6021)

Hadis tadi sebagai asas keutamaan, walau bagaimanapun dari sudut praktikal jawapannya mungkin berbeza menurut keadaan diri seseorang.

Maksudnya begini, jika seseorang itu perlu Qadha puasanya selama 30, berpuluh atau berbelas hari (kerana nifas atau haid yang lama di bulan Ramadan sebagai contoh) dan tubuhnya juga sihat dan di yakini masih kuat. Eloklah ia mengerjakan puasa sunat Syawwal terlebih dahulu di ketika itu . Ini adalah kerana waktu sunnat puasa Syawwal yang singkat berbanding Qadha (sepanjang tahun).

Bagaimanapun harus di ingat, walaupun waktu bagi puasa Qadha adalah panjang, kita tetap tidak pasti adakah kita mampu sampai ke tarikh itu atau ajal menjelang dahulu.

Seseorang yang mati sebelum mengganti puasa Ramadannya tetapi sudah berpuasa sunat Syawwal akan pasti bermasalah kerana ia dikira masih berhutang dengan Allah SWT.

Bagaimanapun seseorang yang mati setelah berjaya menggantikan puasanya tetapi tidak sempat berpuasa sunat Syawwal, pastinya tiada sebarang masalah pun, malah mungkin ia juga mungkin boleh mendapat pahala sunat syawal itu sekali. Berdasarkan sabda Nabi SAW

‏إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة ومن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له سيئة واحدة

Ertinya " ... barangsiapa yang beringinan melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, telah di tuliskan oleh Allah baginya pahala penuh, maka jika ia beringinan dan kemudian melakukannya, di tuliskan 10 pahala sehingga 700 kali ganda.." ( Riwayat Al-Bukhari, no 6010)

Kita harus memahami bahawa darjat puasa Qadha adalah lebih tinggi dan tanggungjawab bagi menunaikannya adalah jauh lebih besar dari sunat Syawwal, ini kerana puasa qadha adalah puasa wajib dan merupakan 'hutang' ibadah dengan Allah berbanding puasa syawwal yang hanyalah sebagai tambahan pahala.

Isu Gabung Sunat dan Qadha

Isu menggabungkan puasa qadha dan syawal sememangnya amat popular, pandangan ringkas saya adalah seperti berikut :-

Tidak elok untuk menggabungkan kedua-duanya bagi mereka yang mampu (dari sudut kesihatan tubuh dan lain-lain) untuk memisahkannya. Ini kerana sepengetahuan saya tiada dalil yang specifik membuktikan Nabi SAW pernah melakukannya atau menganjurkan kepada para sahabat untuk menggabungkannya.

Apabila Nabi, sahabat dan salaf soleh tidak melakukannya maka pastinya ia bukanlah amalan yang terpilih dan terbaik kerana pilihan Nabi SAW dan para sahabat selamanya adalah yang terbaik.

Malah terdapat juga hujjah-hujjah yang menyebabkan pandangan yang yang mengharuskan penggabungan 'qadha dan ganti' itu dipersoalkan, iaitu :-

1. Jika seseorang mengatakan boleh gabung puasa qadha (yang wajib) dengan puasa syawwal (yang sunat) maka sudah tentu selepas ini timbul pula individu yang cuba menggabungkan solat wajib dengan solat sunat, seperti gabungan solat isyak dengan terawih, atau subuh dengan 'tahiyyatul masjid' atau dengan solat sunat fajar, atau solat jumaat dengan solat sunat 'tahiyyatul masjid'. Maka ini pasti menyebabkan masalah lain timbul dalam ibadah wajib termasuk rekaan-rekaan pelik seperti solat fardhu subuh campur istikharah dan lain-lain.

2. Menurut Prof. Dr Syeikh Abd Malik as-Sa'dy (ex-Lajnah Fatwa Iraq) dan Prof Dr Mohd 'Uqlah el-Ibrahim (Jordan) mereka berpendapat bahawa amalan wajib tidak boleh digabungkan dengan apa-apa amalan wajib atau sunat lain, kerana amalan wajib memerlukan tumpuan khusus yang tidak berbelah bahagi semasa pelaksanaannya dan ia perlu bagi mengangkat tuntutan kewajibannya. Justeru, tindakan menggabungkan ini pasti mengurangkan kesempurnaan hamba dalam menunaikan tuntutan wajib mereka. Wallahu a'lam.

3. Tindakan A'isyah r.a yang melewatkan Qadha pula boleh di jadikan hujjah bahawa beliau mengasingkan kedua-dua puasa Qadha dan Syawwal. Maka inilah yang terpilih sepatutnya. (tidak gabungkan kerana Aisyah r.a tidak menggabungkannya) . Aisyah menyebut :

كأن يكون عليّ الصيام من شهر رمضان فما أقضيه حتى يجئ شعبان

Ertinya : Kewajiban ke atasku untuk puasa (Qadha) dari puasa Ramdhan, tidaklah aku menggantinya sehingga datang sya'ban" ( Riwayat Muslim, no 101)

4. Amalan wajib (qadha) memerlukan niat yang 'jazam' (tepat dan pasti) maka tindakan mengabungkan ia dengan niat puasa sunat mungkin boleh merosakkannya kepastiannya. Kerana itulah ulama yang mengizinkannya mencadangkan agar diniat puasa qadha sahaja, adapun syawwal itu dipendam sahaja dengan harapan Allah menerimanya.

Bagaimanapun, ulama yang mencadangkan ini jelas menyatakan bahawa tindakan menggabungkannya tetap mengurangkan pahala sunat syawwal ini kerana tidak diniat dan tidak dilakukan sepenuhnya (Hasyiah As-Syarqawi 'ala al-Tahrir, Syeikh Zakaria Al-Ansary, 1/427; naqal dari Min Ahsanil Kalam Fil Fatawa, Atiyyah Saqr, 2/23)

5. Malah ada pula yang berhujjah bahawa amalan sunat tidak boleh ditunaikan sebelum amalan fardu. Demikian menurut Syeikh Abu Raghib al-Asfahani, Syeikh Ihsan Muhammad 'Aayish al-'Utaibi dan juga di sebutkan oleh Dr Yusof Al-Qaradawi di dalam kitabnya Fiqh Awalwiyyat. Ini ada asasnya kerana berdasarkan hadith Nabi SAW

من
صام
رمضان
ثم
أتبعه
ستاً
من
شوال
فكأنما
صام
الدهر

Ertinya: "Barangsiapa telah berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan 6 hari dari dari Syawwal (puasa) maka ia adalah seperti (pahala) puasa ad-Dahr (setahun)" (Riwayat Al-Bukhari, no 6502).

6. Kita dapat melihat penggunaan 'fe'il madhi' iaitu 'past tense' bagi puasa Ramadan, mungkin sahaja boleh membawa makna sesiapa yang belum lengkap puasa Ramadannya perlulah melengkapkan dahulu, kemudian barulah mereka layak bagi mendapat peruntukan pahala sunat Syawwal.

7. Hujjah ulama yang mengharuskannya adalah hadith

" Sesungguhnya amalan itu berdasarkan kepada niat, dan bagi seseorang apa yang diniatkan." (Riwayat Bukhari, no 1, 1/12)

Ia dilihat agak umum, memang benar apa yang diniatkan adalah penting, tetapi niat mempunyai kaedah dan cara-caranya bagi diterima, contohnya seperti niat solat yang di cadangkan di dalam mazhab Syafie dimulakan semasa lafaz takbiratul ihram di sebut, jika tidak niat itu tidak dikira. (Rujuk Al-umm, hlm 78, cet Baytul Afkar; Rawdhah At-Tolibin, An-Nawawi, cet Baytul Afkar, hlm 103).

Justeru, niat juga ada displinnya dan tidak boleh di buat sesuka hati di dalam ibadah.

Kesimpulan

Kesimpulan dalam yang mengutarakan perbincangan yang terbatas ini : Elok sangat tidak digabungkan dan elok sangat didahulukan yang wajib (qadha) daripada sunat (syawwal);

Pandangan yang membolehkan saya anggap sebagai rukhsah "keringanan" bagi mereka yang mempunyai kesukaran kerana uzur dan tidak mampu untuk mengasingkannya. Antara ulama yang membolehkan untuk menggabungkannya adalah beberapa ulama dari mazhab Syafie (Mughni al-Muhtaj, 1/602), Assembly of Muslim Jurists in America (AMJA), Syeikh Atiyyah Saqar, panelis fiqh Islam online.net dan beberapa yang lain.

Sekian


 

Thursday, September 24, 2009

PERUT oh… PERUT

Alhamdulillah, hari ini kita telah 5 hari menyambut kedatangan bulan Syawal. Kemeriahan eidulfitri masih terasa… dari satu rumah ke satu rumah kita kunjungi..Pelbagai jenis hidangan yang kita nikmati… Yang menjadi mangsa keadaan adalah PERUT. Kesian kat PERUT… Baru berehat sebulan sudah dibebankan dengan tugasan yang berlambak.

Oleh itu, kesempatan ini saya ingin berkongsi sedikit beberapa nasihat Imam Al-Ghazali berkenaan tentang PERUT dlm kitabnya Minhajul Abidin. Semoga prestasi ibadah kita tidak terjejas selepas ditarbiyah sebulan. Bukan senang nak dapat tarbiyah Ramadan ini. Hanya pilihan Allah sahaja yang menerimanya. Baiklah… Mari sama-sama kita menghayati dan mengamalkan nasihat Hujjatul Islam ini.

PERUT merupakan bahagian yang paling sukar dibaiki serta paling besar mudarat dan pengaruhnya. PERUT ibarat mata air dan merupakan sumber tenaga bagi seluruh badan. Maka, WAJIB bagi kita menjaganya dari perkara yang HARAM dan SYUBHAT.

Ini kerana menurut Imam al-Ghazali ada 3 sebab mengapa kita perlu menjaga perut kita dr pkr yg HARAM dan SYUBHAT iaitu:

  1. Takutkan api neraka seperti dlm hadis nabi saw:

    " setiap daging yg tumbuh dr makanan HARAM, api neraka akn lebih cepat menyambarnya"


     

  2. Tidak akan diberi taufik dlm beribadah. Ini kerana org spt ini tidak layak utk berkhidmat kpd Allah swt.


     

  3. Terhalang dari melakukan kebaikan. Jika dia melaksanakan kebaikan pun amalannya itu akan ditolak.

    "Allah tidak akan menerima solat seseorang yang dlm perutnya penuh dgn makanan HARAM" (riwayatkan oleh Ibnu Abbas)


 

Yahya bin Muaz berkata bahawa TAAT itu tersimpan dlm gudang-gudang Allah yang lubang kuncinya adlh DOA dan anak kuncinya adlh barang yang HALAL. Jika anak kunci itu tidak ada maka pintu tidak akan dapat dibuka. Dan jika pintu tidak dpt dibuka maka bagaimana seseorang itu boleh mendapat TAAT??

Memakan makanan yang HALAL secara berlebihan merupakan PENYAKIT bagi ahli ibadah dan BALA` bagi ahli ijtihad.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahawa ada terdapat banyak keburukan apabila kita tidak menjaga PERUT dr pkr HARAM dan SYUBHAT serta makan makanan yg berlebihan. Antaranya adalah:

  1. Menjadikan HATI keras dan memadamkan sinarnya.

    "jgnlah kamu mematikan HATI dgn makan dan minum berlebihan meskipun mknan dan minuman itu halal. Sebab HATI ibarat tumbuh-tumbuhan jika terlalu byk disiram ia akan mati"
    (al-hadith)

  2. Menyempitkan akal, fikiran dan pengetahuan. Imam ad-Daraquthni pernah berkata, "jika engkau menginginkan sst di antara kebutuhan dunia dan akhirat jgnlah makan dulu sebelum tercapai maksud itu. Sebab makan menjadikan fikiran menjadi lesu. Hal itu jelad dirasakan oleh yg pernah mengalaminya."


     

  3. Mengakibatkan malas beribadah.


     

  4. Menghilangkan kemanisan beribadah.

    "Sejak memeluk Islam belum pernh aku merasakan kenyang kerana aku ingin mengecapi manisnya beribadah." Abu Bakar As-Siddiq.


     

  5. Menjerumuskan kepada perbuatan SYUBHAT dan HARAM.

    "Sesungguhnya yg halal itu tidak datang kpdmu melainkan sbg bekal. Dan yg HARAM dtg kepadamu dgn melimpah"
    (al-hadith)


     

  6. Akan menyukarkan kita sewaktu sakaratul maut dan dipadang mashyar nanti.

    "sakitnya sakaratul maut itu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kenikmatan dunia. Sebab, byk mengambil kesenangan dunia bererti byk menerima kepayahan diakhirat" (al-hadith)


     

  7. Mengakibatkan berkurangnya pahala.

    "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan); Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik."(al-Ahqaf:20)


 

" barangsiapa menginginkan dirinya menjadi orang yang paling mulia, hendaklah bertaqwa kepada Allah."

Wednesday, September 16, 2009

Doa Qunut

Baru-baru ini, aku sering kali dihujani dengan pertanyaan adik-adik usrahku tentang doa qunut... Beberapa buah surau kolej tidak membaca doa qunut ketika solat subuh.

Dengan ilmu dan kefahaman yang sedikit aku memberikan respon, "doa qunut ini sunat ab`ad menurut Imam Syafie. Jadi sewajarnya Imam solat subuh tersebut menghormati pegangan kita ini walaupun mungkin imam tersebut mempunyai hujah lain. Belajarlah akhlak bermahzab daripada Imam Syafie"

Alhamdulillah, diberikan sedikit kelapangan masa. Disini aku turunkan perbahasan berkenaan doa qunut itu. Semoga ia menjadi manfaat kepada kita semua... Belajarlah kita bersikap tasammuh (menghormati) pegangan orang lain...

  1. Para ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa qunut dibaca didalam sholat witir. Mereka berpendapat qunut ini dilakukan sebelum ruku’. Qunut tidak dilakukan pada sholat-sholat selain witir kecuali apabila terjadi suatu bencana maka ia dilakukan di sholat-sholat yang dikeraskan bacaannya. Adapun bahwa nabi telah melakukan qunut selama satu bulan saat sholat subuh ini telah dimansukh (dihapus) menurut ijma, dengan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau saw pernah melakukan qunut didalam sholat subuh selam satu bulan kemudian dia saw meninggalkannya.” (HR. al Bazaar, Thabrani dan Ibnu Abi syaibah).
  2. Para ulama madzhab Maliki berpendapat bahwa disunnahkan qunut dibaca dengan suara pelan didalam sholat shubuh saja dan tidak disaat sholat witir dan selainnya karena hal itu makruh. Qunut itu afdhol dilakukan sebelum ruku’ walaupun jika dilakukan setelah ruku’ juga boleh.
  3. Para ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa disunnahkan qunut itu dilakukan saat i’tidal (bangun dari ruku’) di raka’at kedua sholat subuh, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw melakukan qunut sholat subuh hingga beliau meninggal dunia.” (HR. Ahmad, Abdur Razaq dan Daru Quthni). Dan Umar ra juga melakukan qunut di sholat subuh dan dihadiri oleh para sahabat yang lainnya.
  4. Para ulama madzhab Hambali berpendapat seperti para ulama madzhab Hanafi bahwa qunut disunnahkan didalam sholat witir yang satu rakaat.sepanjang tahun, ia dilakukan setelah ruku’. Dan sebagaimana pendapat Syafi’i bahwa qunut juga dilakukan pada sholat witir di bagian kedua akhir dari bulan Ramadhan, namun jika ada yang melakukan qunut sebelum ruku’ pun tidak masalah, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw melakukan qunut setelah ruku’.” (HR. Muslim) serta yang diriwayatkan dari Humaid berkata, “Bahwa Anas pernah ditanya tentang qunut didalam sholat shubuh? Dia menjawa,’Kami dahulu melakukan qunut sebelum ruku’ juga sesudahnya.” (HR. Ibnu Majah) – (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz 2 hal 1001 -1008)

Isu: Ganyang Malaysia...

video

Inilah lagu TERANG BULAN yang dikatakan menyerupai lagu NEGARAKU.....

Sejak zaman Presiden Soekarno lagi Indonesia telah kerap mendakwa lagu kebangsaan Malaysia "Negara Ku" telah meniru bulat-bulat melodi lagu "Terang Bulan" karya seorang warga Indonesia yang tidak diketahui namanya.

Ketika sebuah kapalterbang komersial Korea Selatan ditembak jatuh oleh pesawat pejuang Sukhoi Soviet Union pada 1979 dahulu, Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) dan seluruh masyarakat dunia mengutuk tindakan kejam Soviet Union tersebut.

Namun Presidennya ketika itu, Leonid Brezhnev mengguna pakai kaedah "The Rules Of Hundred Days". Ikut keyakinan Brezhnev selepas 100 hari dunia akan melupakan peristiwa itu. Ada benarnya kata Brezhnev. Kini peristiwa itu hanya menjadi satu catatan nota kaki pada satu mukasurat buku sejarah sahaja.

Sebagai negara yang mempunyai penduduk Islam yang ramai Malaysia dan Indonesia tentunya mahu perkara ini dapat diselesaikan dengan semangat ukhwah islamiah juga. Ini hanya isu lama yang didendangkan semula. Presiden Soekarno ketika hidupnya pun sudah tidak mahu mengungkit isu lagu 'Terang Bulan' ini lagi.

Cara segelintir rakyat Indonesia yang 'terlebih emosional' dan golongan 'pendek akal' di Jakarta melakukan 'Sweeping Malaysian' dengan buloh runcing kerana memprotes penggunaan visual tarian pendet Bali yang terdapat dalam videoclip pelancungan terbitan Discovery Channel bukanlah cara 'orang cerdik' masyarakat bijak pandai dan bertamadun bertindak.

Kita hanya mampu mendoakan yang terbaik agar isu ini dapat di redakan (kalaupun tidak dapat diselesaikan) dengan cara yang lebih bertamadun bukan dengan mengikut rentak kaki para demonstrasi jalanan yang 'pendek akal' menyalak bukit melepaskan geram emosi yang tak bertempat.

Atau kita mengguna pakai kaedah Brezhnev "The Rules Of Hundred Days"?

Namun bagamaimana pula dengan tarian poco-poco yang kini popular dan dijadikan lagu resmi senam robik anjuran kerajaan negeri Johor? Melodi dan lirik lagunya diambil bulat-bulat.

#sekadar mengambil respon dari ust Zabidi... Bersama kita fikir dan renungkannya...

Tuesday, September 15, 2009

Bermuhajadahlah Wahai Syabab!!!

Dalam hidup, kita sentiasa berdepan dengan dua perkara. Pertama, perkara yang perlu kita lakukan. Kedua, perkara yang suka kita lakukan. Sudah menjadi "sunnatullah", kedua-dua perkara itu saling bertentangan antara satu sama lain.

Biasanya perkara yang perlu
kita lakukan adalah perkara yang tidak suka kita lakukan. Dan perkara yang kita suka lakukan adalah perkara yang tidak perlu kita lakukan.

Contohnya, sembahyang Subuh. Bila hampir masuknya waktu Subuh, perkara yang perlu kita lakukan ialah bingkas bangun, terus membersihkan diri, bersuci dan berwuduk. Itulah "perkara-perkara" yang perlu kita lakukan. Pada masa yang sama, apakah perkara yang suka kita lakukan?

Ya, diikutkan rasa, kita suka untuk terus tidur dan bersenang-senang. Bangun Subuh ialah perkara yang perlu kita buat, manakala terus tidur ialah perkara yang suka kita buat.

Bagi anak-anak yang bakal menduduki peperiksaan pula, perkara yang perlu mereka buat ialah menelaah dan mengulang kaji. Sebaliknya, perkara yang suka mereka buat ialah bermain secara keterlaluan, berbual-bual kosong, menonton dan berhibur.

Untuk berjaya, mereka mesti menelaah dan mengulang kaji. Itu yang perlu mereka buat. Namun, sekiranya mereka terus berhibur dan melakukan perkara-perkara yang suka mereka buat, mereka akan gagal.

Tegasnya, untuk berjaya dalam hidup, kita mesti lakukan perkara yang perlu kita buat walaupun kita tidak suka melakukannya. Tidak ada pilihan, paksa diri untuk melakukannya! Lawan godaan dan rangsangan yang menggamit hati kita untuk melakukan perkara yang suka kita lakukan.

Dalam hidup, untuk berjaya dan bahagia kita perlu melakukan perubahan. Kita perlu keluar daripada "zon selesa" menuju "zon mencabar" kerana di zon yang mencabar itulah letaknya kemajuan, perkembangan dan peningkatan dalam kehidupan kita. Zon selesa ialah keadaan yang kita berada sekarang, sementara zon mencabar ialah keadaan yang kita inginkan pada masa depan.

Untuk mencapai apa yang kita inginkan, kita mesti melakukan perubahan. Kita perlu lebih berusaha, menambah ilmu dan berani melakukan langkah-langkah baru dalam kehidupan. Ringkasnya, kita perlu berubah. Tetapi perubahan itu "awkward"- yakni canggung, kekok dan tidak selesa sifatnya.

Oleh sebab itulah ramai yang tidak mahu berubah. Mereka ingin terus selesa di zon selesa walaupun terpaksa menerima nasib atau menanggung keadaan yang sama. Kesannya? Mereka terus gagal, hina, miskin, lemah atau jahil kerana enggan berubah.

Berlakulah apa yang sering diungkapkan:
"Orang yang berjaya ialah orang yang memaksa dirinya berubah manakala orang yang gagal berubah hanya apabila terpaksa!"

Hidup ini adalah perubahan. Kata bijak pandai, yang tidak berubah hanyalah perubahan. Manusia tidak akan mampu menahan perubahan. Ia mesti berubah, atau dipaksa berubah. Mereka yang berubah dengan rela akan berjaya. Manakala yang berubah dengan terpaksa akan gagal.

Contohnya, mereka yang memaksa diri untuk berjimat ketika berada, akan berjaya menguruskan ekonomi dan keadaan kewangannya dengan baik dalam keadaan apa sekalipun. Sebaliknya, orang yang boros, akan "terpaksa" berjimat apabila gaji mula dipotong, dibuang kerja atau ditimpa musibah.

Perokok tegar yang memaksa dirinya untuk tidak merokok akan berjaya melepasi belenggu ketagihannya, manakala yang terus berdegil akan terus merokok hinggalah diberitahu bahawa dia mengidap barah paru-paru!

Untuk melakukan perkara yang "perlu" dibuat walaupun kita tidak "suka" membuatnya, menagih ketabahan, keberanian dan istiqamah (konsisten). Ini semua seolah-olah "menyeksa" diri sendiri. Ketika orang lain nyenyak tidur menjelang Subuh, mampukah kita bangun?

Ketika kawan-kawan leka melayari Internet, bermain komputer atau "video game", bolehkah kita terus belajar dan menelaah pelajaran?

No pain, no gain - tidak ada "kesakitan", tidak ada ganjaran. Berakit-rakit ke hulu, berenang-berang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitu yang dipesan sejak dulu. Justeru, untuk berjaya "mujahadah" itu adalah wajib.

Mujahadah ertinya "berperang" dengan diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang sangat dibenci oleh hawa nafsu. Hawa nafsu hanya inginkan kejahatan, kelalaian dan keseronokan. Sebaliknya, ia sangat bencikan kebaikan, peringatan dan ketaatan.

Menentang hawa nafsu, samalah dengan menentang diri sendiri. Terseksa. Ini yang menyebabkan satu mujahadah selalu patah. Atau belum pun bermujahadah sudah mengaku kalah. Terlalu sayangkan diri untuk "disakiti".

Padahal mujahadah itu pahit kerana syurga itu manis. Letih sedikit, tak boleh. Hendaknya… banyak rehat. Pahit sedikit sudah mengeluh. Pedih sekelumit sudah mengaduh.

Dunia hakikatnya adalah gelanggang mujahadah. Kita di sini untuk "menanam". Di sana (akhirat) nanti barulah kita menuai. Musim bertanam memanglah payah - mencangkul, membaja, menjaga dari serangga dan bermacam-macam-macam lagi kesusahan. Bila menuai nanti baru terasa nikmat dan seronoknya.

Dunia diumpamakan tempat "membayar". Di akhirat nanti tempat "bermain". Pay now, play later. Bayar di sini, "berseronoklah" di sana. Apa sahaja di dunia ini menuntut bayaran. Pilihlah, sama ada untuk membayar dahulu, atau membayar kemudian. Tetapi sekiranya kita membayar dahulu, kejayaan di kemudian hari akan menjadi lebih manis dan bererti.

Orang mukmin sentiasa rela bersusah payah untuk melakukan ketaatan, kebajikan dan kebaikan. Hidupnya, terlalu sibuk dengan ibadah. Berpindah dari ibadah khusus kepada ibadah umum, berpindah lagi kepada ibadah sunat. Begitulah sehari semalam, sentiasa berpindah dari satu ibadah ke satu ibadah.

Banyak kepahitan yang perlu ditempuh oleh orang mukmin untuk menempah syurga selaras dengan sabda Rasulullah SAW:
"Syurga dipagari dengan kesusahan, manakala Neraka dipagari oleh keseronokan."

Sebaliknya, bagi orang kafir dan fasik mereka berpegang kepada konsep: Play now, pay later. Demikianlah kehidupan, tidak ada yang percuma. Apatah lagi kehidupan di syurga.

Justeru marilah sama-sama kita berpesan agar rela menerima "kepahitan" yang sedikit dan sementara demi menikmati kemanisan yang banyak dan abadi di sana. Oh, alangkah jahilnya kita sekiranya rela menanggung seksa yang begitu dahsyat dan kekal di akhirat hanya kerana nikmat yang sedikit dan sementara di dunia.

Sebaliknya, kita bijak kalau terus bermujahadah untuk melakukan perkara-perkara yang perlu dilakukan sehinggalah tiba ketikanya kita boleh melakukan apa sahaja perkara yang kita suka melakukannya. Di mana? Bila? Jawabnya, di SYURGA!

Saudaraku, aku sudah menunaikan janjiku. Jalannya tidak ada lain..

BERMUJAHADAHLAH....

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template